Mengenal Rasulullah, Mencintai, dan Meneladaninya Part 1
Mengenal sosok Nabi yang mulia sebagai suri tauladan umat Islam

MENGENAL RASULULLAH ﷺ, MENCINTAI DAN MENELADANINYA
Pendahuluan Agar kita dapat mencintai dan meneladani Nabi Muhammad ﷺ dengan benar, kita perlu mengenal beliau lebih dekat. Semakin kita mengenal kepribadian, akhlak, sifat, dan perjuangan Rasulullah ﷺ, semakin besar pula harapan kita untuk mencintai dan mengikuti petunjuk beliau. Mencintai Rasulullah ﷺ bukan sekadar mengungkapkannya melalui lisan, melainkan juga mewujudkannya dalam hati, ucapan, dan perbuatan. Bukti kecintaan kepada beliau adalah mengikuti ajaran, menaati perintah, menjauhi larangan, serta meneladani akhlak dan ibadah beliau sesuai dengan tuntunan yang sahih. Materi ini akan membahas tiga pokok utama: Mengenal Rasulullah ﷺ. Mencintai Rasulullah ﷺ. Meneladani Rasulullah ﷺ.
BAGIAN 1 MENGENAL RASULULLAH ﷺ Mengenal Rasulullah ﷺ merupakan langkah penting untuk menumbuhkan kecintaan kepada beliau. Pengenalan ini meliputi akhlak, kepribadian, sifat, serta karakteristik fisik beliau sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur'an dan hadis.
A. Mengenal Perangai dan Akhlak Rasulullah ﷺ Rasulullah Muhammad ﷺ adalah teladan terbaik bagi umat manusia. Keteladanan beliau mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari ibadah, hubungan dengan keluarga, interaksi dengan masyarakat, hingga sikap terhadap orang yang berbeda pendapat dengannya.
Allah ﷻ berfirman: لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21) Ayat ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ merupakan teladan terbaik bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan keselamatan di akhirat.
Berikut beberapa akhlak mulia Rasulullah ﷺ yang patut kita pelajari dan teladani. 1. Memiliki Budi Pekerti yang Luhur Rasulullah ﷺ memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau jujur, amanah, penyayang, sabar, pemaaf, dan senantiasa memperlakukan orang lain dengan baik.
Rasulullah ﷺ bersabda: إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."(HR. Ahmad, dalam Al-Musnad) Hadis ini menunjukkan pentingnya akhlak mulia dalam ajaran Islam.
Seorang muslim tidak cukup hanya memperhatikan ibadahnya, tetapi juga harus memperbaiki hubungannya terhadap Allah dan sesama manusia.
Allah ﷻ juga memuji akhlak Rasulullah ﷺ dalam firman-Nya: وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ Artinya: "Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4)
Akhlak Rasulullah ﷺ merupakan perwujudan nyata dari petunjuk Al-Qur'an. Ketika Aisyah radhiyallahu 'anha ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ, beliau menjawab: كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
Artinya: "Akhlak beliau adalah Al-Qur'an." (HR. Muslim no. 746)
Maksudnya, Rasulullah ﷺ menerapkan ajaran Al-Qur'an dalam kehidupan beliau. Apa yang diperintahkan Al-Qur'an beliau laksanakan, dan apa yang dilarangnya beliau tinggalkan. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia, seperti berkata jujur, menepati janji, menjaga amanah, menghormati orang lain, dan menjauhi perkataan kotor.
Rasulullah ﷺ bersabda: مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ، وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ
Artinya: "Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari Kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor. (HR. At-Tirmidzi no. 2002)
Hadis ini menjelaskan bahwa akhlak yang baik memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah ﷻ dan menjadi amalan yang berat timbangannya pada hari Kiamat.
Pelajaran yang dapat diambil: -Menjaga kejujuran dalam perkataan dan perbuatan. -Menunaikan amanah dan menepati janji. -Berbicara dengan sopan dan tidak menyakiti orang lain. -Menjauhi perkataan keji, hinaan, dan kebiasaan mencela. -Menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
2. Rendah Hati dan Bersahaja Rasulullah ﷺ adalah pribadi yang sangat mulia, tetapi beliau tidak sombong. Beliau tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain meskipun memiliki kedudukan yang sangat agung di sisi Allah.
Allah ﷻ berfirman: وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
Artinya: "Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati." (QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu sifat hamba Allah yang saleh adalah rendah hati dalam kehidupan sehari-hari.
Rendah hati bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan, melainkan tidak merasa lebih baik daripada orang lain, tidak meremehkan sesama, dan bersedia menerima kebenaran.
Rasulullah ﷺ bersabda: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar zarah."
Kemudian seorang laki-laki bertanya tentang seseorang yang suka mengenakan pakaian dan sandal yang bagus. Rasulullah ﷺ menjawab: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: "Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim no. 91)
Hadis ini menjelaskan bahwa mengenakan pakaian yang bagus dan menjaga penampilan bukanlah kesombongan. Kesombongan yang tercela adalah menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.
Allah ﷻ juga berfirman: وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya: "Janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)
Pelajaran yang dapat diambil: -Tidak merasa lebih baik daripada orang lain. -Tidak merendahkan orang miskin atau orang yang kedudukannya lebih rendah. -Menerima nasihat dan kebenaran dengan lapang dada. -Tidak membanggakan harta, jabatan, ilmu, atau keturunan. -Menjaga penampilan tanpa disertai kesombongan.
3. Lemah Lembut terhadap Keluarga dan Sesama Salah satu bukti kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ adalah kelembutan beliau terhadap keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Rasulullah ﷺ tidak dikenal sebagai orang yang kasar, suka mencela, atau gemar membalas keburukan dengan keburukan. Beliau justru mengajarkan kasih sayang, kesabaran, dan sikap memaafkan.
Dalam sebuah riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang berkata keji, berbuat keji, atau berteriak-teriak di pasar. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi memaafkan dan berlapang dada. (HR. Ahmad, dalam Al-Musnad)
Rasulullah ﷺ juga bersabda: خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR. At-Tirmidzi no. 3895)
Hadis ini menegaskan bahwa kemuliaan akhlak seseorang tidak hanya terlihat ketika berinteraksi dengan masyarakat, tetapi juga ketika berada di rumah bersama keluarganya. Seseorang hendaknya tidak bersikap kasar kepada pasangan, anak-anak, atau anggota keluarganya. Sebaliknya, ia harus berusaha menjadi pribadi yang penyayang, sabar, dan bertanggung jawab.
Pelajaran yang dapat diambil: -Berbicara dengan lembut kepada pasangan dan anak-anak. -Tidak mudah marah atau membentak. -Memaafkan kesalahan yang bersifat pribadi. -Menunjukkan kasih sayang melalui perkataan dan perbuatan. -Menjadi teladan yang baik bagi anggota keluarga.
B. Mengenal Karakteristik Fisik Rasulullah ﷺ Selain mengenal akhlak dan kepribadian beliau, kita juga dapat mengenal karakteristik fisik Rasulullah ﷺ melalui riwayat para sahabat yang pernah melihat dan berinteraksi langsung dengan beliau. Deskripsi berikut bersumber dari hadis tentang sifat fisik Rasulullah ﷺ. Riwayat-riwayat tersebut membantu kita mengenal gambaran beliau sebagaimana disampaikan oleh para sahabat.
1. Memiliki Perawakan Sedang dan Tubuh yang Proporsional
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِالطَّوِيلِ الْبَائِنِ وَلَا بِالْقَصِيرِ، وَلَيْسَ بِالْأَبْيَضِ الْأَمْهَقِ وَلَا بِالْآدَمِ
Artinya: "Rasulullah ﷺ tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek. Beliau tidak berkulit putih pucat dan tidak pula berkulit gelap." Dalam riwayat tersebut juga disebutkan bahwa rambut beliau bergelombang, tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus. Jumlah uban di kepala dan jenggot beliau tidak mencapai dua puluh helai. (HR. Al-Bukhari no. 3547 dan Muslim no. 2347, dengan perbedaan redaksi dalam riwayat)
Riwayat ini memberikan gambaran bahwa Rasulullah ﷺ memiliki perawakan sedang, rambut bergelombang, dan uban yang relatif sedikit.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu juga meriwayatkan: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ رَبْعَةً، لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ، حَسَنَ الْجِسْمِ
Artinya: "Rasulullah ﷺ memiliki perawakan sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek, serta memiliki bentuk tubuh yang bagus." (HR. At-Tirmidzi, dalam Asy-Syama'il, dengan redaksi yang berdekatan)
2. Memiliki Bahu Bidang dan Rambut yang Lebat
Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مَرْبُوعًا، بَعِيدَ مَا بَيْنَ الْمَنْكِبَيْنِ، عَظِيمَ الْجُمَّةِ إِلَى شَحْمَةِ أُذُنَيْهِ
Artinya: "Rasulullah ﷺ adalah seorang yang berperawakan sedang, memiliki bahu yang bidang, dan rambut yang lebat hingga mencapai cuping kedua telinganya."
Dalam riwayat yang sama disebutkan bahwa beliau pernah mengenakan pakaian berwarna merah dan bahwa perawakan beliau sangat elok. (HR. Muslim no. 2337, dengan penyesuaian redaksi)
Riwayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki penampilan yang menawan, bahu yang bidang, dan rambut yang lebat.
3. Memiliki Tubuh yang Kuat dan Persendian yang Besar
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu meriwayatkan tentang karakteristik fisik Rasulullah ﷺ, di antaranya: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ
Artinya: "Nabi ﷺ bukanlah orang yang terlalu tinggi dan bukan pula orang yang pendek."
Dalam riwayat tersebut juga dijelaskan bahwa beliau memiliki telapak tangan dan telapak kaki yang kuat, kepala yang besar, serta persendian yang besar. Ali radhiyallahu 'anhu juga menggambarkan cara berjalan beliau yang tegap dan penuh ketegasan. (HR. At-Tirmidzi, dalam Asy-Syama'il, dan diriwayatkan pula melalui jalur-jalur lain dengan perbedaan redaksi)
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki perawakan yang kuat dan cara berjalan yang menunjukkan ketegasan.
4. Memiliki Kulit yang Cerah Kemerahan, Telapak Tangan yang Lembut, dan Aroma Tubuh yang Harum
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu meriwayatkan: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَزْهَرَ اللَّوْنِ كَأَنَّ عَرَقَهُ اللُّؤْلُؤُ
Artinya: "Rasulullah ﷺ memiliki warna kulit yang cerah, dan keringat beliau seakan-akan seperti mutiara." Anas radhiyallahu 'anhu juga menjelaskan bahwa beliau tidak pernah menyentuh sutra atau kain yang lebih lembut daripada telapak tangan Rasulullah ﷺ. Ia pun tidak pernah mencium aroma yang lebih harum daripada aroma tubuh beliau. (HR. Muslim no. 2330 dan diriwayatkan pula oleh Ad-Darimi, dengan perbedaan redaksi)
Riwayat ini menunjukkan keistimewaan fisik Rasulullah ﷺ sebagaimana disaksikan langsung oleh para sahabat.
Kesimpulan : Mengenal Rasulullah ﷺ tidak cukup hanya dengan mengetahui gambaran fisik beliau. Hal yang lebih utama adalah mengenal akhlak, ibadah, perjuangan, dan ajaran beliau. Gambaran fisik Rasulullah ﷺ membantu kita mengenal beliau melalui riwayat para sahabat, sedangkan pengenalan terhadap akhlak dan ajaran beliau menjadi landasan untuk menumbuhkan kecintaan dan mengikuti sunnahnya.
Penyusun: Tim Ahli Qiblatuna Bidang Sirah Nabawiyah
